Sangkepan Perempuan Pesisir ke IV (Dampak Perubahan Iklim terhadap Perempuan Nelayan)

Sangkepan perempuan pesisir ke 4 dilaksanakan pada tanggal 8 Januari 2022. Sangkepan dengan tema “Dampak Perubahan Iklim terhadap Perempuan Nelayan” kali ini tidak ada pemateri dari luar organisasi. 

Ada beberapa perempuan nelayan yang berbagi cerita tentang dampak perubahan iklim yang menimpa mereka dan orang-orang di kampungnya. Sangkepan kali ini sebagai ajang curhat dan refleksi bersama angota KPPI.

Sangkepan dibuka oleh ibu Sahara, perempuan nelayan dari kabupaten Batubara Sumatera Utara. Ia bercerita tentang banjir rob atau banjir akibat pasang air laut yang menimpanya. Ia mengenang kondisi kampungnya yang dulu jauh beda dengan sekarang.

Dulu air rob hanya datang satu kali dalam setahun dan hanya mengenang halaman rumahnya, waktu datangnya pun bisa diperkirakan. Namun sejak tahun 2003, air rob hampir tiap hari datang. Air rob tak hanya mengenang di halaman namun juga masuk dalam rumah yang ketinggiannya setiap tahun meningkat, bahkan sekarang bisa mencapai 90 cm.

Air akan mengenang dalam rumah selama 3 sampai 4 jam dengan kandungan senyawa yang menyebabkan korosi pada perkakas rumah tangga. Sedangkan di luar rumah, air akan mengenang selama beberapa hari dengan sampah dan limbah ikan yang berbau busuk. Kini garis pantai sudah tak terlihat, halaman rumah para nelayan sudah bersatu dengan pantai.

Narasumber selanjutnya adalah Ibu Taqiya, perempuan petambak asal Demak Jawa Tengah. Banjir rob juga melanda kampungnya. Setiap tahun air rob mengalami kenaikan lebih dari 10 cm yang membuat lingkungan mereka tergenang air setiap hari. Panen ikan yang dulu setahun bisa tiga kali kini hanya satu kali, bahkan kadang gagal panen karena ikan hilang terseret air rob.

Selanjutnya narasumber ketiga adalah Siti Maimunah atau akrab dipanggil Mbak Mai. Dalam penjelasan yang gamblang, Mbak Mai menjelaskan tentang krisis iklim yang melanda bumi. Perubahan iklim terjadi karena pencemaran berat atmosfer bumi yang berakibat menurunnya kemampuan bumi mengontrol suhu udara dan memicu terjadinya berbagai bencana, termasuk banjir rob, badai, kekeringan, kebakaran hutan dan lainnya.

Pencemaran atmosfer bumi diakibatkan oleh pembongkaran dan pembakaran energi fosil serta perusakan hutan dan lahan, termasuk perusakan laut. Dampak perubahan iklim berkelindan dengan dampak akibat pembangunan skala besar seperti pembangunan infrastruktur skala besar misalnya jalan tol, reklamasi wilayah pesisir dan lainnya.

Setelah tukar cerita dari perempuan nelayan terdampak banjir rob dan penjelasan tentang perubahan iklim. kami menyimpulkan bahwa  Krisis iklim memang berdampak besar pada semua makhluk hidup di bumi. Termasuk perempuan yang dimensi dampaknya beragam.