Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan melakukan rangkaian Safari Ramadhan ke sejumlah daerah pesisir di Jawa Barat untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyerap langsung aspirasi nelayan tradisional. Kunjungan yang berlangsung pada akhir Februari hingga awal Maret itu menjadi ruang dialog antara pimpinan organisasi dan masyarakat pesisir mengenai berbagai persoalan yang dihadapi nelayan kecil, mulai dari akses sumber daya perikanan hingga tantangan lingkungan pesisir. Agenda ini juga dimaksudkan untuk memperkuat solidaritas nelayan serta menegaskan komitmen KNTI dalam memperjuangkan keadilan ekonomi dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.
Kegiatan dimulai di Kabupaten Subang pada 28 Februari melalui forum Ngaji Tenurial Nelayan Tradisional yang digelar di TPI Karya Bhukti, Desa Blanakan. Dalam pertemuan bersama pengurus dan anggota KNTI setempat, nelayan menyampaikan sejumlah persoalan yang mereka hadapi, seperti dampak banjir yang mengganggu aktivitas melaut, sulitnya akses bahan bakar minyak bersubsidi, serta menurunnya hasil tangkapan akibat cuaca buruk dan pencemaran perairan. Nelayan juga menyoroti mulai terasa dampak operasional Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di Muara Blanakan terhadap kondisi perairan. Beberapa nelayan menyampaikan pengalaman mereka secara langsung, di antaranya terkait penurunan hasil tangkapan dan keterbatasan armada yang mempengaruhi jangkauan melaut. Dari kelompok perempuan pesisir, muncul harapan adanya dukungan pelatihan dan permodalan untuk menghidupkan kembali usaha pengolahan hasil perikanan yang sempat terhenti.
“Laut yang sehat adalah jaminan kesejahteraan nelayan. Dukungan sarana seperti SPBUN dan kemudahan akses BBM bersubsidi menjadi faktor penting agar ongkos melaut tidak semakin tinggi,” ujar Dani. Ia juga menegaskan komitmen KNTI mendorong pendidikan bagi anak-anak nelayan sebagai investasi jangka panjang peningkatan kesejahteraan keluarga pesisir.
Safari Ramadhan kemudian berlanjut pada 1 Maret di wilayah pesisir Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Dalam pertemuan dengan nelayan tradisional dan masyarakat pesisir, berbagai persoalan lingkungan menjadi perhatian utama, terutama kerusakan ekosistem pesisir, abrasi, serta semakin menyempitnya wilayah tangkap akibat perubahan lingkungan dan pembangunan kawasan pesisir. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya hasil tangkapan dan meningkatnya ketidakpastian pendapatan nelayan. Selain itu, tingginya biaya operasional melaut serta keterbatasan akses permodalan turut menjadi tantangan bagi nelayan kecil. Perempuan pesisir yang berperan dalam pengolahan hasil tangkapan juga menghadapi kendala berupa minimnya dukungan pelatihan, peralatan produksi, dan akses pasar.
Rangkaian kunjungan ditutup dengan pertemuan bersama nelayan anggota KNTI di Kabupaten Karawang pada 7 Maret. Dalam kesempatan tersebut, Dani Setiawan menekankan pentingnya solidaritas nelayan dalam menghadapi berbagai persoalan di wilayah pesisir, termasuk konflik yang berkaitan dengan proyek PLTGU di pesisir Karawang. Ia juga mendorong penguatan kemandirian ekonomi nelayan melalui pembentukan koperasi serta pendirian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) guna memperluas akses solar bersubsidi bagi nelayan tradisional. Selain aspek ekonomi, KNTI menilai perlindungan lingkungan pesisir sebagai pilar penting dalam perjuangan organisasi. Upaya nelayan Karawang yang menempuh jalur hukum untuk mempertahankan kelestarian lingkungan dinilai sebagai bentuk perjuangan yang beradab dalam menjaga ruang hidup masyarakat pesisir.














