Pencemaran laut dan konflik ruang tangkap masih menjadi tantangan serius bagi nelayan tradisional di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Di Bintan dan sejumlah daerah lainnya, tumpahan limbah minyak hitam mengganggu aktivitas penangkapan ikan serta sektor pariwisata, sementara di pelabuhan-pelabuhan perikanan terjadi ketegangan antarnelayan akibat tumpang tindih wilayah tangkap. Di sisi lain, pemerintah menyampaikan komitmen modernisasi kampung nelayan melalui program Kampung Nelayan Merah Putih dan penyaluran kapal berukuran 5–30 GT. Namun, persoalan struktural seperti kepadatan armada, kebijakan perizinan, dan dampak pencemaran lingkungan masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.
Baca selengkapnya di Buletin Cadik Nelayan Edisi 9 Februari 2026



