Perempuan Petambak Garam Minta Menteri Kelautan Perikanan Dukung Usaha Perempuan Pesisir

Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan miniatur Indonesia, wilayahnya kaya akan potensi perikanan kelautan terdiri atas dua pulau besar yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dan ratusan pulau-pulau kecil. Jumlah pulau di NTB sekitar 280 pulau, saat ini hanya 32 pulau yang berpenghuni. Pulau Lombok menjadi salah satu destinasi yang diminati wisatawan lokal maupun mancanegara, selain itu Lombok bagian timur dikenal dengan budidaya lobsternya. Ketua Bidang Perempuan KNTI Lombok Timur, Sri Wahyuni, pada saat pertemuan dengan Menteri Kelautan Perikanan menyampaikan bahwa Lombok selain dikenal dengan wisata serta budidaya lobsternya, disana juga ada kegiatan usaha perempuan pesisir yang perlu diperhatikan yakni usaha tambak garam, Selasa (23/02/2021).

“Usaha tambak garam kami masih tradisional, para perempuan bekerja sebagai petambak garam dengan peralatan sederharna. Kami berharap Pak Menteri bisa memberikan perlengkapan peralatan usaha garam serta menjamin harga yang layak atas garam hasil produksi perempuan Lombok timur ini.” Terang Sri

Dalam pertemuan, Sri sampaikan tentang pentingnya memberikan pelatihan kepada perempuan petambak garam misalnya pelatihan bagaimana mengolah garam menjadi garam kecantikan (Scrub Wajah) agar hasil produksi garam bervariasi.

Menteri Kelautan Perikanan merespon baik apa yang diusulkan oleh KNTI, melalui dirjen KKP yang membidangi program pemberdayan akan memberikan pemberdayaan kepada perempuan pesisir terlebih kepada istri-istri nelayan.

Sambung Sri, perempuan pesisir terlebih istri-istri nelayan perlu juga diberikan pelatihan pengolahan produksi hasil perikanan, agar nilai jual hasil tangkapan nelayan bertambah sehingga ekonomi keluarga nelayan tercukupi.

“Banyak perempuan jadi TKW karna penghasilan keluarga tidak mencukupi kebutuhan keluarga, tentu ini sangat disayangkan jika melihat potensi Lombok. Sehingga perlu didukung usaha-usaha perempuan ini, agar tidak perlu lagi menjadi TKW di negri orang.” Terang Sri