Perempuan Nelayan Aceh Penjaga Pangan di Masa Pandemi

Potret peran penting perempuan nelayan ini dapat kita lihat di Nanggroe Aceh Darusalam. Nelayan di Aceh pada umumnya mengenal masa dimana hasil tangkapan ikan berlebih pada musim-musim tertentu yang biasa mereka sebut sebagai musim banjir. Ketika musim ini tiba, hasil tangkapan ikan nelayan sangat melimpah, tetapi biasanya harga jual ikan akan jatuh.

Aceh, 28 Mei 2020. Perempuan nelayan memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat pesisir. Namun keberadaannya selama ini kurang mendapat perhatian dalam desain kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia. Termasuk dalam berbagai program pembangunan dan pemberdayaan di wilayah pesisir. Peran merekapun nyaris sepi dari publikasi media, padahal posisinya sangat penting dalam kehidupan nelayan terutama nelayan kecil/tradisional. Peranannya seolah hanya menjadi bayangan dari imajinasi public tentang sosok nelayan yang sangat maskulin. Hal tersebut dibentuk oleh suatu kontsruksi sosial budaya dan mindset masyarakat Indonesia yang masih menganggap kodrat perempuan hanya mengurusi soal “dapur dan kasur”.  Meskipun kenyataan di lapangan amat berbeda. Pada masyarakat pesisir, perempuan memiliki peran ganda, sebagai ibu rumah tangga dan pelaku ekonomi penting dalam proses produksi ikan baik sebelum maupun sesudah melaut.

Potret peran penting perempuan nelayan ini dapat kita lihat di Nanggroe Aceh Darusalam. Nelayan di Aceh pada umumnya mengenal masa dimana hasil tangkapan ikan berlebih pada musim-musim tertentu yang biasa mereka sebut sebagai musim banjir. Ketika musim ini tiba, hasil tangkapan ikan nelayan sangat melimpah, tetapi biasanya harga jual ikan akan jatuh. Hal ini mengakibatkan banyak ikan tidak terjual bahkan ikan tidak termanfaatkan sama sekali sehingga dibiarkan di pantai dan dibuang begitu saja di dermaga tempat kapal mendarat. Para ibu-ibu nelayan mencoba mengolah ikan-ikan tersebut menjadi makanan hasil olahan.

Khususnya di masa pandemi Covid-19 ini. Hasil tangkapan nelayan berlimpah sementara minat daya beli masyarakat menurun, sehingga mengakibatkan penurunan harga ikan di beberpa Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Demikian juga pada penampung-penampungan besar, dikarenakan adanya pembatasan pengiriman keluar daerah mengakibatkan banyak ikan yang tidak terjual di TPI. Melihat ada kesamaan saat musim banjir, para perempuan nelayan mencoba mengolah ikan tersebut menjadi produk makanan.

Melimpahnya ikan dimasa pandemi menjadi peluang bagi pengrajin mengolah hasil tangkapan ikan. Ikan hasil tangkapan yang berlimbah umumnya merupakan jenis ikan pelagis yang bergerombol seperti tongkol dan ame-ame (cakalang). Berbagai produk olehan ikan yang diproduksi oleh perempuan nelayan di Aceh antara lain:

  1. Ikan Asin. Aneka jenis ikan dapat diolah dan paling mudah untuk dibuat, sehingga ibu-ibu nelayan tidak khawatir jika banyak ikan yang tidak habis terjual.
  2. Ikan Kayu. Ikan tongkol yang direbus kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Beberapa ada juga yang melalui proses pengasapan.
  3. Ikan Sale. Jenis ikan air tawar yang di belas dan di sale sampai masak.
  4. Ikan Teris Kering. Aneka jenis teri dari berbagai ukuran, yang prosesnya direbus lalu dijemur.
  5. Udang Kering. Udang laut semua ukuran yang kemudian prosesnya direbus lalu dijemur.
  6. Udang Sabu. Udang berukuran kecil biasanya udang jenis ini yang bisa dibuat terasi juga. Olahannya dengan di rebus lalu dijemur.
  7. Teri Medan. Ukuran teri kecil yang ukurannya tidak sampai 1cm, di rebus dan selanjutnya dijemur.

Selain ikan kering, olahan lainnya yaitu ikan rebus. Ikan rebus adalah jenis olahan ikan yang menjadi bahan makanan siap saji. Ikan rebus yang berbahan dasar ikan tongkol ini menjadi menu keumamah (salah satu jenis masakan khas Aceh) yang siap dimakan dengan nasi saat hangat. Menu ikan keumamah ini dalam sejarahnya merupakan bekal yang biasa dibawa oleh rombohan haji. Perjalanan panjang ibadah haji melalui laut membutuhkan perbekalan yang tidak sedikit, di antaranya membawa bekal nasi ikan keumamah ini.

Untuk sistem penjualan secara bebas dan mandiri, dimana masing-masing pengrajin menjual sendiri ke agen-agen pengumpul yang ada di masing-masing desa. Disini dalam satu desa terdapat dua hingga lebih pengumpul sehingga penjualan dapat tersebar. Untuk koperasi atau BUMDes yang ada di masing-masing desa hanya sebagai pendukung kegiatan pengrajin dalam segi modal, sehingga pemasaran dilakukan secara mandiri.

Pemasaran secara online juga dilakukan oleh pengrajin dengan bermodalkan smartphone untuk memperluas pemasaran mereka. Sesama pengrajin juga bisa saling memenuhi stok pesanan. Pengrajin akan memenuhi kebutuhan konsumen di pasar lokal terlebih dahulu, bila ada pemesanan dari luar dari Aceh mereka akan memenuhi stok tersebut secara bersama-sama dengan pengrajin lainnya. Ada kalanya toke (penampung) juga ikut terlibat dalam memenuhi kebutuhan pasar di luar daerah.

Dari sini kita menyaksikan bahwa peran perempuan nelayan sebagai penyedia pangan perikanan sangat besar. Peran mereka semakin penting dikala terjadi krisis seperti melimpahnya ikan yang tidak mampu terjual oleh nelayan. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah untuk menyediakan beragam skema kebijakan seperti permodalan, teknologi dan pemasaran untuk meningkatkan kesejahteraan kelauarga nelayan.

Kontributor: Chuldy