Manado, CyberNews. Perwakilan nelayan-nelayan tradisional dari 17 provinsi di Indonesia mendeklarasikan berdirinya organisasi nelayan tradisional pertama bernama Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI). KNTI menyakini kesatuan nelayan dan pengelolan pesisir berbasis kearifan masyarakat adalah kunci utama menghadapi krisis kelautan dan dampak perubahan iklim. Pembentukan KNTI merupakan hasil Kongres Nelayan pertama diselenggarakan pada 11-15 Mei 2009 di Manado, dan dihadiri perwakilan nelayan tradisional dari 17 provinsi berkumpul di Manado. Mereka sepakat membentuk organisasi Kesatuan
Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI). “Kami percaya kesatuan nelayan tradisional dan model pengelolaan berbasis masyarakat pesisir adalah pengelolaan alternatif yang akan membantu kami menghadapi krisis kelautan dan dampak perubahan iklim,” ungkap Dedy Ramanta selaku Sekretaris Nasional KNTI dalam siaran pers kepada Suara Merdeka CyberNews, Sabtu (16/5). Dia menambahkan, Community Base Coastal Resouces Manajement merupakan pengelolaan kawasan berbasis relasi sosio-ekologis antara nelayan dan dinamika lingkungan lautnya. Awig-awig di Nusa Tenggara Barat, Bapongka di Sulawesi Tengah, Semah laut di Bengkalis, Mappanretasi di Kalimantan Selatan, Nyadran laut di Jawa dan masih banyak lainnya, merupakan model-model lokal yang telah berhasil melindungi sumber-sumber penghidupan nelayan tradisional. “Model-model inilah yang telah dan berisiko dimusnahkan lewat penetapan kawasan-kawan konservasi ala proyek CTI yang dihasilkan di Konferensi Laut Dunia di Manado kemarin,” tandasnya.

( Imam M Djuki / CN05 )

Sumber :  http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2009/05/16/28579

Leave a Comment