Cerita Pembudidaya Lobster di Lombok

Menurut pembudidaya, dalam kegiatan budidaya lobster, ketersediaan benih lobster di alam akan menjadi stabil karena proses pemijahan di keramba sudah berlangsung secara alami. Kegiatan pemelihaan dari benih sampai dengan ukuran 200-250 gram dengan rentang waktu 7-8 bulan sampai akhirnya dijual (berdasarkan pengamatan selama melakukan budidaya, lobster jenis pasir sudah terjadi proses pemijahannya).

Petambak Teluk Jukung Hasbi Asidqqi dan Zuhrowardi. (UMAR WIRAHADI/JAWA POS)

Pembudidaya lobster (pembesaran lobster) mendapat benih lobster kaca (bening) yang ditangkap dari alam (belum ada dari hasil hatchery) yang selanjutnya dimasukan ke dalam Keramba Jaring Apung (KJA). Terdapat pembudidaya yang melakukan pembesaran di KJA dengan ukuran benih yang sedikit  besar (5-10 ons) maupun yang masih kaca (bening).

Para pembudiaya di Lombok Timur hanya mengenal pakan berupa kerang-kerangan maupun ikan runcah, sementara di negara Vietnam sudah lebih maju (makanan pelet khusus lobster) yang sudah diatur gizi pakannya sehingga pakan menjadi permasalahan dalam proses produksi pembesaran lobster. Selain dari pakan, faktor penting yang diperhatikan adalah mengatur kebersihan. Menurut pembudidaya, dalam kegiatan budidaya lobster, ketersediaan benih lobster di alam akan menjadi stabil karena proses pemijahan di keramba sudah berlangsung secara alami. Kegiatan pemelihaan dari benih sampai dengan ukuran 200-250 gram dengan rentang waktu 7-8 bulan sampai akhirnya dijual (berdasarkan pengamatan selama melakukan budidaya, lobster jenis pasir sudah terjadi proses pemijahannya).

Konstruksi Keramba Jaring Apung (KJA) sebaiknya menggunakan bambu petung dengan menggunakan pelampung (Styrofoam) atau busa dan trool sebagai sarana kolam pembesaran lobster. Hal ini dilakukan agar KJA bisa bertahan lama. Konstruksi KJA dirangkai per segi dengan ukuran lokal (lubang) 3 meter per segi dan untuk perangkaian sebaiknya menggunakan tali nilon karena cenderung lebih elastis dan tahan lama bila dibandingkan baut yang cepat berkarat oleh air laut. Jumlah lokal per unit KJA bisa dibuat sesuai kemampuan finansial, mulai dari 4 lubang, 8 lubang, 12 lubang, 16 lubang, 32 lubang, dan seterusnya. Semakin sedikit jumlah lubang pada 1 unit maka semakin bagus karena sirkulasi arusnya lebih lancar, tidak banyak terhalang oleh jaring trool (kolam pembesaran). Untuk saat ini, jumlah rata-rata lubang pada satu unit KJA adalah 8 buah. Sarana penunjang yang dibutuhkan adalah berupa jaring Jala, Bagang dan jenis alat tangkap lainnya.

Keunggulan budidaya lobster dengan jenis budidaya lainnya adalah karena biaya investasinya relatif lebih murah. Apalagi, lobster dari hasil budidaya bisa dipanen parsial jika sudah mencapai ukuran. Di sini, pengepul memiliki peran penting di lapangan. Mereka selalu ontime menerima pembelian lobster jika pembudidaya membutuhkan uang dalam waktu cepat. Lobster merupakan komoditi yang paling mudah untuk mengatasi kebutuhan mendesak atau mendadak para pembudidaya, karena dapat dipanen sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, jika membutuhkan uang ratusan ribu rupiah hingga jutaan, maka cukup hanya menenteng beberapa ekor lobster ke pengepul.

Terkait tata niaga pasca panen, persoalan harga jual masih menjadi masalah mendasar yang banyak  dikeluhkan pembudidaya. Tidak ada standar harga yang bisa menjadi acuan bersama. Pembudiaya cenderung menjadi korban permainan harga oleh tengkulak. Pembudidaya biasanya menjual hasil panen lobster kepada pengepul, lalu pengepul menjual lagi kepada pengusaha di Jakarta atau di Bali. Para pengusaha inilah yang memiliki akses pasar ekspor dengan menjual lobster ke luar negeri. Kendala yang dirasakan oleh pembudidaya dari segi pemasaran di antaranya adalah tidak mendapat informasi tentang harga lobster di pasaran. Artinya hanya pengusaha di Jakarta atau Bali dan pengepul yang mengetahui informasi tersebut. Harga menjadi fluktuatif di tingkat pengepul yang artinya harga lobster naik turun dan lebih banyak turunnya. Informasi harga lobster hanya ada sampai tingkat pengepul dan itu menjadi domain pengusaha dan pengepul.

Biasanya alasan yang sering digunakan adalah harga lobster sedang “jatuh” karena di Vietnam sedang panen perdana. Akibatnya, pembudidaya tidak pernah menikmati harga tinggi, meskipun waktu panen ada pada waktu-waktu tertentu dimana terjadi peningkatan permintaan, seperti tahun baru, hari raya natal dan tahun baru Cina.

Dari sisi pembayaran, pembudidaya menjual lobster kepada pengepul yang kemudian dibayar setelah pengepul membawa barang dan dibayar oleh agen di Jakarta atau daerah lain. Harga lobster pasir paling banyak dibudidaya di Lombok, dengan harga tertinggi mencnapai 400.000 dan terendah 275.000 bahkan bisa mencapai ke bawah. Harapan para pembudiaya dilombok salah satunya adalah terkait adanya standar harga yang ditetapkan oleh pemerintah untuk melindungi usaha budidaya agar berkelanjutan.

Dewan Pengurus Pusat Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPP KNTI)