BBM Bersubsidi untuk Nelayan Kecil

Saikul, nelayan Tambak Lorok, Semarang, pagi buta selepas subuh sudah bergegas keluar rumah. Berbekal pancing, makanan dan 20 liter BBM yang dibelinya kemarin sore, Dia bersama 1 orang rekannya menuju pelabuhan kecil tempat bersandar perahu yang tak lebih 5 GT ukurannya. Pagi itu, Saikul bertaruh nasib di laut yang terkadang hingga belasan mil jauhnya. Seraya berdoa agar laut hari itu berbaik hati kepadanya, mengirimkan ikan-ikan ke rumpon untuk dipancing. Membawa pulang hasil tangkapan untuk menafkahi isteri dan dua orang puteranya. Rutinitas subuh hingga menjelang sore yang dilakoninya sejak puluhan tahun lalu.

Jika musim ikan sedang baik, terlukis senyum lebar Saikul setiba di pelabuhan. Pikirannya menerawang membayangkan keluarganya masih bisa menyambung hidup hari itu. Jika harga ikan sedang bagus, Saikul masih bisa menyisihkan sedikit uang, jaga-jaga untuk kebutuhan mendesak atau biaya pendidikan anak. Tapi bencana jika mulai masuk masa paceklik, ikan langka dan terkadang modal melaut tidak bisa tertutupi. Terlebih di masa pandemi, meskipun hasil tangkapan berlimpah, harganya jatuh. Pengepul mengurangi pembelian, rumah makan tutup, orang takut ke pasar membeli ikan segar. Saikul gigit jari, meratapi pandemi yang tak kenal kompromi.

Sudah hampir enam bulan harga ikan malas naik. Akibatnya 88,6 persen nelayan Tambak Lorok saat ini mengalami penurunan pendapatan total harian dibandingkan sebelum pandemi. Sementara biaya melaut tetap sama. BBM solar yang dibelinya di eceran harganya lebih tinggi dari harga subsidi. Padahal, Sekitar 70-80 persen biaya operasional penangkapan ikan dihabiskan untuk membeli BBM yang memiliki pengaruh besar bagi penghasilan yang diperoleh nelayan. Sejak stasiun pengisian solar/SPDN tutup di tambak lorok, nelayan terpaksa membeli BBM eceran dengan harga lebih tinggi atau membeli secara illegal dari “kapal kencing” di laut. Membeli BBM subsidi di SPBU lokasinya cukup jauh dan nelayan tidak tahu caranya mendapat surat rekomendasi dari dinas perikanan.

Di tengah kepiluan itu, Saikul jarang terlihat mengeluh. Tetap berbagi semangat di organisasi nelayan yang digelutinya saat ini: Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia. Tempatnya berkhidmat dan rumah perjuangan. Masih dalam semangat hari maritim nasional.

23 September 2020.

Dani Setiawan
Ketua Harian KNTI